Minggu, 30 April 2017

24 Hours Meet You | Park Jimin (BTS) & Kang Seulgi (Red Velvet) |


| Park Jimin (BTS) & Kang Seulgi (Red Velvet) | Romance |

Tapi, sepertinya aku tidak ingin berteman. Bagaimana lebih?


***


12.00 am

Waktu seperti berhenti saat ini juga. Debu yang berterbangan pun berhenti sejenak. Ruangan ini hening. Antara dua manusia saling menatap satu sama lain tanpa berkata apapun. Si wanita menghirup nafasnya dengan dalam, mendadak ia menjadi susah bernafas. Sedangkan si pria hanya diam menatap wanita itu dengan datar.

Dalam hati wanita itu mengutuk dirinya sendiri. Merasa bodoh karena percaya dengan tipuan Joy, si gadis nakal yang terkenal di kelasnya. Raganya kini menjadi lemas, tak tahu harus berbuat apa lagi. Semua sudah terjadi begitu saja. Menerima nasib dengan kurungan bersama pria yang sama sekali tak di kenalnya.

Pria itu berkedip sekali, lalu mengalihkan pandangannya. Ia berjalan mendekati pintu gudang kusam itu. Sekali lagi ia mencoba membuka pintu itu dengan sekuat tenaganya. Namun apa daya, semuanya tetap sia-sia seperti sebelumnya, tak membuahkan hasil. Ia menghela nafasnya dengan kasar. Jika saja guru olahraganya tak menyuruhnya mengambil bola basket sialan itu, pasti ia tak akan seperti ini sekarang.

Wanita itu berjalan pelan mendekati pria itu. “Pe—permisi..”

Pria itu berbalik, ia hanya mengangkat alisnya satu. “Apa pintunya macet?”

“Coba saja” balas pria itu. Pria itu memundurkan langkahnya membiarkan wanita itu mencobanya.

Dengan tenaga yang wanita itu punya, ia mulai mencoba membuka pintu itu, namun nihil. Pintu itu tetap begitu keras. Wanita itu terduduk, menyandarkan tubuhnya di pintu dingin itu. “Lalu bagaimana ini?” cicitnya.

Pria itu tak menjawab, ia malah ikut duduk dengan jarak yang lumayan jauh dengan wanita itu.

13.00 am

Selama satu jam kedua manusia itu tak ada yang berusaha membuka pintu gudang itu lagi. Mereka terlihat lelah. Percakapan pun tak ada yang terdengar, bahkan keduanya tak tahu nama masing-masing. Si wanita memejamkan matanya sebentar. Ia melirik pria itu yang sedang memejamkan matanya.

“Per—permisi”

Pria itu membuka matanya, ia mengernyit. “Apa tak ada jalan keluar lagi?”

“Kalau ada, aku tidak akan diam saja”

Jawaban yang singat itu membuat wanita itu mengerucut. Tiba-tiba saja ia teringat dengan zaman modern sekarang ini. Bukankah ia memiliki telepon. Segera ia meronggoh kantung celananya, mengambil benda beradiasi itu.

Jari-jarinya bermain diatas layar itu. Setelah menemukan nama ‘Wendy’ di kontaknya, segera ia menelepon pemilik nama itu. Lontaran kata-kata diucapkannya dalam hati, berharap gadis itu mengangkat teleponnya dan membantu dirinya. Namun kesialan terus menghantuinya, sayangnya tak ada jawaban dari pemilik nomor itu. Tapi wanita itu bersisikeras mencari bantuan dari yang lain.

Disisi lain, pria itu hanya diam menatap wantia itu datar. Ia memutar bola matanya malas. “Apa kau akan seperti itu?” ujar pria itu.

Wanita itu menoleh, “aku sedang berusaha” lalu ia kembali sibuk dengan teleponnya.

“Jaringanku tak ada, kenapa kau bisa ada?”

Pertanyaan itu membuat wanita itu spontan menjatuhkan teleponnya. “Jadi sedari tadi tak ada jaringan? Lalu bagaimana dengan kita?”

Pria itu berdecak. “Ya seperti ini”

Wanita itu menekukkan kedua lutunya, lalu ia menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya. “IBU!”

Pria itu terkejut mendengar teriakan yang nyaring itu. “Ya! Jangan berisik. Mau kau berteriak ataupun menjerit tak akan ada yang bisa mendengarnya” kesal pria itu.

Wanita itu mendongak, ia menatap pria itu nanar. “Lalu bagaimana? Apa kita akan terkurung disini selamanya?”

Pria itu hanya mengedikkan bahunya, hal itu membuat wanita itu kembali menenggelamkan kepalanya, menangis dalam diam.

14.00 am

“Aku tak bisa seperti ini terus!”

Pria itu membuka matanya kembali, ia memperhatikan wanita itu yang berdiri mencoba mendobrak pintu itu. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.

“Aku saja tak sanggup, bagaimana kau?”

Wanita itu berbalik. “Lalu bagaimana?!”

“Ini ketiga kalinya kau menanyakan hal itu padaku. Sekali lagi aku katakan, jika aku bisa, aku juga tak akan diam seperti ini” jujur pemuda itu diakhir helaan nafasnya.

Wanita itu menundukkan kepalanya, ia menggigit bibir bawahnya, rasa takutnya mulai datang.

Pria itu berdiri dari duduknya, ia menepuk bokongnya membersihkan debu-debu yang lengket. Kemudian ia berjalan mendekati pintu itu. Perlahan ia mendekati kupingnya ke pintu itu. Yang ia dengar suara hening, tak ada siapa pun di luar sana.

“Siapapun diluar sana, tolong kami!” teriak pria itu.

Wanita itu mendongak, ia pun ikut berteriak dengan kuat. “IYA! Siapapun diluar sana, tolong kami, tolong!!” jerit wanita itu.

Beberapa kali mereka menjerit, tapi tak ada yang mendengarnya. Hingga pria itu berhenti merasa lelah, kerongkongannya pun terasa kering.

“Tolong! Ada orang terkurung disini!!” jerit wanita itu.

Tetap saja tak ada yang mendengarnya, semuanya sia-sia. Kini ia menjadi merasa haus.

“Hufh.. sia-sia” gumam pria itu.

Wanita itu jatuh terduduk, memandang kedepan dengan tubuh yang sudah lemas. “Aku merindukan ibuku”

Pria itu memutar bola matanya, ‘anak mami’

15.00 am

Wanita itu bangun, dia tersadar. Sudah 3 jam ia terkurung disini dan masih sempatnya ia tertidur di tempat yang kotor dan bau ini. Matanya melirik pria itu yang duduk jauh darinya. Wajah pria itu tampak lelah juga.

“Permisi”

Pria itu membuka matanya. “Namamu siapa? Aku Seulgi” ujar wanita itu mengenalkan namanya.

“Jimin”

Singkat dan padat, kemudian pria itu kembali menutup matanya. Seulgi menghela nafas. Beduaan dengan pria tampan, siapa yang tidak senang. Hanya saja pria tampan itu terlihat cuek dan dingin. Dan itu membuatnya bosan.

Seulgi tak habis pikiran. Dia bukan wanita itu bisa diam dalam apapun. Ia berdiri, berjalan mendekati pria itu. Tanpa mengucapkan ‘permisi’ ia menduduki dirinya di sebelah pria itu tanpa rasa canggung sedikit pun.

Pria itu membuka matanya menoleh, terkejut, sejak kapan wanita itu telah duduk disampingnya secara dekat ini.

Seulgi malah memamerkan gigi-gigi putihnya. “Aku bosan”

Jimin berdecak. “Kenapa kau mengadu padaku? Aku juga bosan”

“Bagaimana kalau kita bermain” ujar Seulgi antusias.

Jimin menggelengkan kepalanya beberapa kali. “ini bukan saatnya bermain-main.”

Mendengar itu, spontan senyum yang ia pamerkan tadi hilang begitu saja dengan digantikan kerucutan mulutnya. “Lalu bagaiamana?”

“Keempat kalinya”

Seulgi memutar bola matanya. Bisa-bisanya Jimin menghitung apa yang ia selalu ucapkan. Ia menoleh sebentar, melihat Jimin kembali menutup matanya.

16.00 pm

Ruangan itu tetap hening. Tak ada yang berbicara lagi. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya mulut Seulgi sudah gatal ingin mengajak pria di sebelahnya berbicara, namun apa daya, Jimin begitu irit mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya sendiri. Sampai Seulgi memecahkan keheningan lagi.

“Kau kelas berapa? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya” Tanya Seulgi menatap kedepan.

“Kelasku di sebelah kelasmu” jawab Jimin tanpa membuka matanya.

Seulgi menoleh cepat, matanya membesar mengetahui hal itu. “Benarkah? Tapi aku tak pernah melihatmu sekalipun.”

“Apa kau jarang keluar kelas?” lanjut Seulgi.

Jimin hanya mengangguk sambil bergumam. Seulgi menghela nafas, ia kembali menatap kedepan. “Sudah 4 jam kita disini. Tapi tak ada satupun yang menolong kita. Apa kita akan bermalam disini?” curhat Seulgi.

Jimin dapat mendengar curhatan itu, tapi ia tetap memejamkan matanya, mencoba tidak terusik dengan suara itu. Kepalanya saja hampir pecah, memikirkan bagaimana ia keluar dari gudang yang akan gelap ini nanti. Tapi Seulgi selalu menganggunya, mencoba mengajaknya berbicara apapun itu topiknya, tapi yang pasti tidak penting.

Tiba-tiba saja lintasan tawa jahat di kepala Seulgi membuat wanita itu menggeram marah. Tangannya terkepal, mengingat wajah Joy yang tersenyum penuh kemenangan jika sudah melihatnya kesusahan. Ntah kenapa ia punya teman satu kelas seperti gadis jahat itu, ralat bukan teman tapi musuh. Tadi Joy menyuruhnya ke gudang karena guru matematikanya menyuruh dirinya mengambil penggaris panjang, jika itu tipuan ia tak akan seperti ini. Namun, begitu bodohnya mempercayai tipuan itu.

“Jimin-ssi bagaiamana ini!”

Mata pria berambut orange itu lantas terbuka mendengar jeritan itu. Ia menoleh menatap Seulgi tajam. “Bisakah kau diam? Aku juga sedang berpikir!” seru Jimin.

Ekspresi Seulgi kembali mengerucutkan wajahnya. Kesal juga berlama-lama berbicara dengan Jimin. Bagaimana bisa pria itu berpikir selama 4 jam, dan tak ada hasil-hasilnya. Apa Jimin berpikir atau tidur?

17.00 pm

Seulgi merasa bosan, berdiam selama berjam-jam membuatnya begitu sangat bosan. Ia mengeluarkan teleponnya lagi. Senyumnya mengembang melihat sesuatu yang menarik di layar teleponnya. Segera ia bangkit dari duduknya. Dengan satu tekanan di layar itu, suara musik dengan keras langsung menggema di ruangan itu.

“nal neomuneomuneomu neomuneomuneomu neomuneomuneomu neomuneomuneomu neomuneomuneomu”

Jimin meringis, ia membuka matanya. Decakan keluar dari mulutnya, melihat Seulgi kini sudah menari sambil bernyanyi tidak jelas. Dan jelas itu membua kepalanya betambah pusing dengan kelakuan wanita itu.

“YA!”

Teriakan itu menghentikan Seulgi. Ia mematikan musiknya lalu berbalik, “Apa?” tanyanya polos.

“Kau tak tahu, itu sangat berisik?”

“Tidak, justru ini sangat menyenangkan daripada terus tidur” balas Seulgi dengan nada menyindir.

Jimin mengangkat alisnya satu. “Tidur lebih menyenangkan daripada membuang tenaga”

Seulgi menggeram, baru kali ini ia terdiam dengan perkataan. Biasanya ia paling jago menjawab-jawab semua yang diucapkan orang-orang terkecuali orangtuanya dan guru.

Seulgi menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kemudian ia kembali duduk disamping Jimin. Ia menoleh, menatap wajah pria itu dari samping. “Apa kita harus seperti ini?”

Jimin menoleh, “mungkin” jawabnya singkat.

Seulgi hanya diam menatap wajah Jimin dari jarak yang dekat. Baru kali ini ia berani menatap wajah seorang pria dari dekat, biasanya ia tidak berani sama sekali menatap wajah pria secara dekat seperti ini. Tapi sekarang, bahkan rasa takutnya tak ada. Malahan ia merasa ada yang aneh dengan hatinya sendiri. Seperti bergetar, berdenyut, dan berdebar. Ntah apa namanya, dia pun tak mengerti.

“Ini aneh”

Seulgi hanya bergumam mendengar bisikan Jimin itu. Kerongkongannya mendadak mengering saat helaan nafas Jimin mengenainya.

Baru saja Seulgi membuka mulutnya, Jimin sudah berpaling menghadang kedepan kembali. Ia ingin mengatakan hal yang sama dengan Jimin, tapi di urungkan niatnya, mungkin bukan apa-apa.

18.00 pm

Ruangan yang tadinya terang benderang karena cahaya matahari yang memasuki ventilasi ruangan itu kini menjadi gelap gulita. Seulgi merasakan hawa yang panas. Tak ada pencerahan sedikitpun membuat bulunya naik. Tubuhnya bergeser lebih mendekat dengan Jimin, hingga membuat pria itu terbangun dari tidurnya.

“Ada apa?” Tanya Jimin.

Seulgi mengedarkan pandangannya ke seluruh gudang itu. “Ini terlihat seram” gumamnya.

Jimin beralih menatap tubuhnya yang kini sudah bersentuhan dengan lengan Seulgi. “Apa kita harus sedekat ini?”

Seulgi langsung menoleh, “Jika saja aku tidak penakut, aku tak akan selengket ini denganmu” balas Seulgi diakhiri dengan dengusan kasar.

Jimin kembali menghadap ke depan. Ia menyandarkan kepalanya di dinding. “Kau mau bermain?”

Tawaran itu membuat Seulgi langsung menatap pria itu, ia menarik alisnya satu. Apa maksudnya? Bukankah tadi ia mengajak Jimin bermain, tapi pria itu menolaknya mentah-mentah. “Bermain apa?”

“Petak umpet?”

Spontan Seulgi membulatkan matanya, “kau gila ya, ingin membuatku mati?” caci Seulgi. Yang benar saja pria itu mengajaknya bermain sembunyi, dia saja penakut bagaiamana bisa ia bersembunyi sendirian.

Jimin malah tertawa. “Maaf”

Seulgi tersenyum mendengar tawa yang terdengar manis itu. Ia menatap wajah Jimin yang tertawa, walaupun hanya sedikit yang terlihat. “Kau tahu, tawa mu begitu manis”

Ungkapan yang jujur itu, membuat Jimin menghentikan tawanya. Ia menoleh, “kau mengatakannya dengan jujur?”

Seulgi mengangguk beberapa kali. Terdengar hembusan nafas dari pria itu, “asal kau tahu, kau orang ke 1000 yang mengatakan hal itu” ujarnya dengan bangga.

Mendengar itu membuat Seulgi menjadi mual. “Kenapa kau menjadi percaya diri sekali. Aku tarik ucapan ku”

Jimin kembali tertawa tapi kali ini lebih pelan.

19.00 pm

“Kau tahu malam ini biasanya aku sedang memeluk kekasihku”

Jimin menoleh, ia menarik alisnya satu. “Guling kesanganku, dia kekasih setiaku” lanjut Seulgi membuat Jimin ternganga. Dia pikir seorang manusia, taunya benda.

Seulgi menoleh, “kau sendiri, apa kau sudah punya kekasih?”

Jimin menarik ujung bibirnya. “Jika aku mengatakan yang sebenarnya, hatimu tidak akan sakit?”

Seulgi tampak berpikir dengan perkataan Jimin. “Berarti kau sudah punya kekasih?” tebak Seulgi.

“Menurutmu?”

“Sepertinya iya, kau tampan, siapa yang tidak mau denganmu” ungkap Seulgi dengan jujur.

Jimin terkekeh, “kenapa kau selalu jujur sekali. Aku tahu aku tampan”

“Ibuku mengajarkanku untuk tidak berbohong”

Jimin hanya membulatkan mulutnya seraya mengangguk. “Memang benar kau sudah punya kekasih?” lanjut Seulgi kembali bertanya.

“Kenapa kau ingin tahu sekali?”

Seulgi meringis lalu ia terkekeh. “Tak apa, aku hanya berusaha untuk bersahabat denganmu”

“Apa aku pernah bilang, aku ingin bersahabat denganmu?”

Mendengar hal itu, membuat dada Seulgi nyiut. Ya ampun pria itu selalu saja membuatnya diam tak berkutik seperti ini.

“Memangnya tak bisa bersahabat denganmu?”

Jimin terdiam sebentar, seperti memikirkan sesuatu. “Tidak”

Jawaban itu membuat Seulgi menganga. “Tidak? Baiklah, jangan ajak aku berbicara lagi”

Seulgi langsung membuang mukanya, tangannya ia lipat di dadanya. Berpura-pura marah dengan Jimin, hal itu membuat pria disampingnya itu terkekeh dengan wajah lucu wanita itu.

20.00 pm

“Jimin-ssi”

Jimin tersenyum kecil, dugaannya benar. Wanita itu tak akan bisa lama-lama mendiamkannya. Baru beberapa menit saja, wanita itu sudah gusar sambil menatap dirinya. Dan sekarang Seulgi baru berani mengajaknya berbicara.

Jimin hanya berdehem tanpa menoleh. “Aku mulai kedinginan” cicit Seulgi.

Jimin langsug menoleh, benar saja. Seulgi sudah mengusap-ngusap lengannya beberapa kali. “Kau tidak sanggup lagi?”

Seulgi menggelengkan kepalanya pelan, tubuhnya tiba-tiba seperti menjadi membeku karena suhu yang dingin di sekitarnya apalagi tak ada kain satupun menutupi tubuhnya seperti pengganti selimut.

Eh..

Ya itu tadi. Sekarang ia merasakan kehangatan yang luar biasa. Lingakaran tangan yang bertengger di tubuhnya kini membuat ia merasa tenang. Dan ia baru menyadari ini adalah pelukan tangan Jimin. Tanpa berkata lagi, ia mendekatkan kepalanya di dada Jimin, mencari kehangatan lagi. Hingga ia menutup matanya, dengan diiringi wangi tubuh Jimin yang begitu ia sukai.

21.00 pm

Jimin masih terjaga, sedangkan Seulgi sudah tertidur pulas di pelukannya. Ia menundukan kepalanya, ujung bibirnya tertarik. Ini kali pertamanya memeluk seorang wanita selain Ibunya. Dia memang terkenal dengan siswa pendiam yang tak ingin bergaul, sampai-sampai Seulgi tak mengenalinya.

Wanita dalam pelukannya itu mengeluarkan dengkuran halus membuat Jimin terkekeh pelan. Tiba-tiba ia merasa aneh dengan dirinya. Ini bukan seperti dia, biasanya dia paling anti berbicara dengan orang lain, namun hari ini ia banyak berbicara berkat Seulgi.

“Selamat malam”

22.00 pm

Kedua manusia itu telah tertidur pulas dengan posisi berpelukan. Terlihat si pria begitu erat memeluk wanita itu.

23.00 pm

Tetap sama, Seulgi dan Jimin masih tertidur pulas tanpa terbangun sedikitpun, bahkan mereka tampak merasa nyaman satu sama lain.

24.00 pm

Seulgi mengerang, sedikit demi sedikit ia membuka matanya. Awalnya ia terkejut dengan tangan kekar ini, namun ia perlahan mengerti. Ia mendongak menatap wajah pria itu. Senyumnya mengembang, wajah Jimin mampu membuat dadanya bergetar. Menyadari hal itu, segera itu menggeleng lalu kembali memejamkan matanya.

01.00 am

Masih tertidur pulas dalam posisi yang tetap sama.

02.00 am

Tetap sama.

03.00 am

Tetap sama.

04.00 am

Tetap sama.

05.00 am

Tetap sama.

06.00 am

Jimin mengerjapkan matanya beberapa kali. Matanya langsung disambut dengan cahaya yang berasal dari ventilasi ruangan itu. Tiba-tiba tangannya merasa keram, “Bisakah kau bangun” serunya.

Tak ada reaksi dari Seulgi, terpaksa ia melepaskan wanita itu dari pelukannya karena tak tahan lagi. Spontan Seulgi yang tadinya tidur begitu nyenyak terbangun. “Astaga!”

Jimin merengganggkan kedua tangannya. Melihat itu Seulgi mengerti. “Maaf, aku menyusahkanmu” ujarnya penuh penyesalan.

“Kalau tahu, kenapa kau lakukan”

Seulgi teringat sesuatu. “Bukan aku yang lakukan. Ingat, kaulah yang melakukannya, bukan aku” ujar Seulgi sambal tersenyum puas.

Jimin hanya mendengus. Menganggap Seulgi menang, jika ia tak punya rasa belas kasihan, pasti ia akan membiarkan Seulgi mati kedinginan, namun masih memiliki rasa belas kasihan itu.

07.00 am

“Aku merasa tubuhku begitu bau”

Jimin menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Kau benar, kau sungguh bau”

Seulgi terpekik mendengarnya. “Ya! Sepertinya kita sama”

“Tapi kau lebih bau”

“Tidak, kau!”

“Kau menang”

Seulgi mengerucutkan bibirnya, padahal ia ingin mengajak Jimin beradu mulut. Ternyata pria itu memang lahir tak bisa banyak berbicara.

08.00 am

“Apa sekolah tetap sepi?”

Jimin tak menjawab ia memilih diam.

09.00 am

“Seulgi-ssi?”

Seulgi menoleh cepat mendengar panggilan itu. Matanya membesar, mulutnya terbuka. “Daebakk… ini pertama kalinya kau memanggil namaku”

Jimin memutar bola matanya malas. “Apa ekspresimu harus se-alay itu?”

Seulgi berdehem. “Tapi ini luar biasa. Kau itu begitu irit berbicara, dan ini pertama kalinya kau memulai percakapan. Ada apa? Sepertinya penting” ujarnya mendekati Jimin.

10.00 am

Seulgi tertawa terbahak-bahak. Perutnya begitu sakit. Baru saja Jimin menceritakan lelucuon menurutnya, hingga membuatnya seperti ini. Bahkan wajahnya susah memanas. “Sungguh itu lucu sekali”

Jimin mendengus. “Itu bukan lelucuon yang pantas kau tertawakan”

“Lalu?” Tanya Seulgi masih tertawa.

“Berhentilah tertawa, telingaku sakit” dengus Jimin.

Dengan kemampuan yang ia punya, Seulgi menghentikan tawanya walaupun masih ada sisa-sisa tawanya. Bagaimana ia tidak tertawa dengan cerita pria itu, yang mengatakan dengan jujur bahwa ini pertama kalinya ia dekat dengan wanita, dan wanita itu adalah dirinya. Ia sendiri merasa menjadi spesial.

“Baiklah, jadi bagaimana dengan perasaanmu?”

Jimin mengernyit. “Maksudnya”

Seulgi berdecak, “Kau tak merasakan apapun gitu? Ini kan pertama kalinya kau dekat dengan wanita, yaitu aku”

Jimin memutar bola matanya malas. Dasar gadis percaya diri.

11.00 am

“Seulgi-ssi?”

Seulgi menoleh. Ia mengangkat alisnya satu. “Apa kau lapar?”

“Sangat lapar!” jawab Seulgi tegas.

“Aku juga, bertahan sebentar”

“Maksudmu?”

Jimin menoleh, “Aku rasa sebentar lagi ada penolong.

Seulgi hanya mengangguk.

12.00 am

“Jimin-ssi?”

Jimin menoleh, “Apa?”

“Jika nanti kita bebas dari gudang ini, apa kau masih mau berteman denganku?”

“Lihat nanti saja”

Mendengar jawaban yang tak ia sukai itu, membuat Seulgi mengerucutkan bibirnya.

“Tapi, sepertinya aku tidak ingin berteman. Bagaimana lebih?”

Tentu saja Seulgi kaget mendengarnya, ia menoleh cepat. Dan saat itu Jimin mulai memajukan wajahnya, membuat ia seperti terhipnotis menutup matanya. Hembusan nafas pria itu sudah mengenai wajahnya, matanya semakin ia tutup begitu erat, sedikit lagi, dan..

Namun…

BRAKK!!

Keduanya begitu terkejut, spontan menjauhkan wajah masing-masing. Seulgi segera berdiri, berlari ke pelukan Wendy, ia menangis sejadi-jadinya di pelukan sahabatnya itu.

“Tenanglah, sekarang aku ada disini” hibur Irene sambil menepuk pundak Seulgi.

***
Kejadian kemarin tak bisa Seulgi lupakan, apalagi saat wajahnya hampir…

Astaga mengingat itu membuat pipinya kembali memerah. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Baru saja ia memikirkan kejadian itu, seorang pria yang terkait dengan kejadian itu berjalan berlawanan dari arahnya. Dadanya bergetar. Ia merasa seperti ingin meledak. Ditariknya nafasnya dalam, lalu kembali berjalan mendekati pria itu.

“Jimin-ssi, annyeong!”

Pria itu menarik ujung bibirnya.

***
END

*Oke Fix, ini ceritanya random banget. yaelah ini juga bingung mau buat cerita apa. pengennya lanjutin bikin my boyfriend is ugly, tapi kebawa males, eh malah buat cerita baru -_- ywdh deh nih cerita gaje binggo. Selamat di baca teman 😊

2 komentar: